Uncategorized

Perkara Angin Kencang yang Membawa Khayal Melayang

Percayalah bahwa cerita yang akan saya tulis kali ini tak ada faedahnya sama sekali.

Ini dimulai dari angin kencang yang bertiup beberapa malam lalu, membuat kamar tidur saya yang semi permanen ini seakan bergoyang mengikuti tiupan angin. Bahkan mungkin beberapa ranting pohon ada yang berjatuhan karena tak tahan oleh amarah angin yang menyeramkan. Bukan di perkarangan rumah saya, di suatu tempat mungkin.

Angin memang memiliki beberapa manfaat selain menyelusup masuk ke dalam kamar yang akhirnya membuat ruangan sejuk dan tak perlu lagi menerima bantuan dari kipas angin yang menghabiskan banyak energi listrik, apalagi ditambah biaya listrik yang semakin hari semakin mahal. Lalu angin pun dibutuhkan pula untuk menggerakkan turbin yang dapat membangkitkan tenaga listrik karena adanya perpaduan energi kinetik melalui gerak rotasi. Tapi tak perlu ilmiah lah dalam membahasnya, anggap saja angin dan energi kinetik ini saling jatuh cinta dan berjodoh, kemudian melahirkan anak berupa energi listrik sehingga dapat memberikan manfaat dalam kehidupan semua makhluk.

Nah, yang membuat celaka adalah ketika angin diberikan kekuatan penuh untuk membuat ombak bergemuruh dan menyebabkan kapal kayu terombang-ambing di dalamnya. Horor ini menjadi semakin nyata ketika saya pun berada di dalam kapal tersebut. Jangan dibayangin dulu, nanti gagal tugas saya sebagai pencerita.

Saya ingat, pada bulan 2 di tahun 2016 itu adalah pertama kali saya menjejakkan kaki di  Pulo Nasi, saat itu angin berhembus sangat kencang, namun keinginan yang kuat ditambah izin dari orang tua membuat saya mantap berangkat ke salah satu gugusan di Pulau Aceh tersebut. Memang tak dapat dipungkiri, bahwa rasa penasaran bisa mengalahkan semua ragu, tapi jangan keliru, rasa penasaran pun bisa menjadi pembunuh nomor satu.

Siapa yang tak ingin mengambil resiko ketika mengetahui ada tempat indah di muka bumi ini dan belum banyak yang menjejakkan kaki kesana, kecuali penduduk aslinya. Ini semacam suatu misi yang harus saya jalani untuk menemui harta karun berupa tempat baru dengan sajian pemandangan yang indah. Layaknya Lara croft di film Tomb Raider yang ingin memuaskan nafsunya mengejar barang-barang kuno tanpa perduli apa yang akan dihadapinya. Begitulah saya pada saat itu.

Hantaman ombak membuat kapal terombang-ambing di lautan lepas, wajah yang tadinya penuh senyum berubah secara tiba-tiba menjadi tak berbentuk, abstrak lah pokoknya. Sepanjang perjalanan kata-kata yang selalu saya ulang adalah “semoga cepat sampai”. Saya pernah mendengar sebuah ungkapan, “kata yang diulang-ulang adalah seperti kayuhan sepeda yang akan menuju ke suatu tempat”. Saya akhirnya meyakini hal itu karena kayuhan kata-kata tadi mengantarkan kami ke pelabuhan Deudap di Pulo Nasi.

Malam menghampiri dan saya bersama beberapa teman menginap di sebuah rumah dikelilingi kebun kelapa yang luas. Desiran angin malam itu tak kalah seram dengan suasana yang terjadi ketika sedang berada di atas kapal kayu. Tapi kami mencoba menikmati malam dengan berbagi beberapa cerita, mulai dari cerita yang biasa-biasa saja hingga ke cerita horor, biar suasana lebih mencekam dan akan ada kenangan yang tersimpan serta diabadikan, apalagi di belakang rumah tersebut terdapat kuburan. Tapi tidak ada lolongan anjing yang bersahutan, tenang saja, cerita tidak akan selebay itu.

Dua malam berada di pulau ini membuat beban yang terpacak di seluruh punggung saya seketika luruh, ditambah suasana pinggir pantai yang memang menghipnotis diri agar terus berada disana, keadaan pulau yang hanya memiliki lima Desa ini pun membuat angan saya melayang jauh ke beberapa ratus tahun yang lalu. Di depan mata seperti terpampang jelas terjadinya aktivitas perdagangan antar negara, dan seperti melihat adanya pertemuan rapat penting yang dilaksanakan oleh beberapa kerajaan. Mungkin rapat mengenai kerjasama politik atau perdagangan, entahlah… yang jelas seperti menonton sebuah video kolosal yang diputar kembali saat itu.

Hingga hari kepulangan pun tiba, namun angin memang tak bisa diajak berdiskusi pada saat itu. Bahkan pawang sendiri terlihat ragu untuk menjalankan mesin kapalnya. Beliau melihat pada kejauhan bagaimana ombak saling mengejar tanpa jeda. Namun karena banyak penumpang yang berharap dikembalikan ke kampung halamannya atau sekedar melaksanakan tugas di seberang, akhirnya kapal pun di jalankan.

Susah menggambarkan bagaimana perasaan saya saat itu, yang jelas salah seorang teman yang ikut dalam rombongan dan duduk di depan saya, tidak melepaskan pelampung yang dilingkarkan pada tubuhnya, bahkan pelampung itupun juga dia pakai dalam tidur malam pada setiap malamnya. Mungkin agar lebih mudah untuk memvisualisasikan mimpinya, mungkin saja dia akan bermimpi berada di hawai dan melihat gadis cantik yang sedang menari hula-hula. Bukan itu intinya!

Yang membuat suasana lebih mencekam adalah ketika seorang bapak berbicara dengan setengah berbisik kepadanya, “dek.. percuma pakai pelampung, kalau kapal tenggelam kau ikut mati juga, karena penumpang disini pasti ngejar kau biar mereka selamat,” ucapnya dengan wajah datar.  Dan ekspresi saya pada saat mendengar kata-kata itu layaknya ekspresi Spongebob yang ditinggalkan oleh Gary. Panik!

Benar saja, ombak lebih tinggi di bandingkan ketika kami berangkat, bahkan saya mendengar kabar dari salah seorang teman, bahwa kapal dari Sabang tidak bisa kembali ke Banda Aceh karena ombak yang tinggi dan angin kencang. Saya melihat ombak yang kapan saja bisa melahap habis kapal karena tingginya yang melebihi atap kapal dan berjarak tidak lebih dari 2 meter dari kapal yang kami tumpangi. Namun saya juga takjub dengan diri sendiri yang sempat-sempatnya mengambil foto suasana saat itu.

Akhirnya saya juga merasakan bagaimana serunya bertualang sebagai Jack Sparrow. Tidak.. ini bukan petualangan yang menyenangkan melainkan sebuah teror yang harus dihadapi hingga akhirnya pertolongan hanya bisa kita pinta kepada yang Satu, Sang Maestro Kehidupan.

Dan beberapa malam yang lalu saya dibawa bertualang kembali melalui imajinasi yang masih kuat terekam di dalam alam bawah sadar, ketika angin dengan rasa tak bersalahnya kembali berhembus kencang, terlalu kencang.

 

Salam,

@fararizky

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *