tentang rasa

Mengembalikan Anak ke Dunia “Nyata”

Entah harus bangga atau sedih melihat perkembangan teknologi yang kian pesat terjadi di bumi ini. Terutama ketika melihat anak kecil yang saban hari matanya terus melotot di hadapan handphone android atau sebuah tablet, bahkan laptop. Mereka lebih memilih duduk berjam-jam memainkan gadgetnya atau sekedar menonton tanpa mau bersosialisasi dengan sekitar, mereka seperti memiliki dunianya sendiri, dan yang tak habis pikir, kalau gadget tersebut kita ambil atau dipinjam, mereka akan mengamuk sejadinya.

Walaupun terkadang ada juga hal positif yang bisa kita pertontonkan melalui gadget tersebut, tapi kalau seharian? Dan si anak menjadi ketagihan, bagaimana?

Zaman memang berubah, saya paham akan hal itu, tapi tidak semuanya harus dirubah, kan? Apa lagi untuk perkembangan cara berkomunikasi si anak, kalau terus-terusan dia dicekoki dengan gadget karena alasan agar tidak merengek, saya rasa itu jawaban yang paling konyol yang pernah saya dengar di bumi ini, karena saya belum pernah mendengar kata-kata itu di ucapkan di planet lain.

“Kamu kan belum punya anak, Far! Mana pernah kamu rasain repotnya ngurus anak seharian”

Nah, kalau untuk kasus itu saya nyerah, tapi saya punya alasan yang lain kenapa menganggap bahwa mencekoki anak dengan gadget adalah sebuah tindakan konyol. Saya pernah memiliki beberapa  anak asuh yang tinggal 24 jam setiap harinya bersama saya, dan saya juga memiliki keponakan yang cenderung ketagihan gadget.

Ketika mereka “masuk” ke dalam hidup saya, mereka harus menghargai setiap peraturan yang telah kita sepakati bersama, terutama untuk anak yang belum bersekolah, karena akan sangat melelahkan dalam memberi pengertian kepada mereka.

Dengan anak asuh yang dulunya 24 jam tinggal bersama saya, biasanya kita punya jadwal bermain sambil belajar, yaitu pada sore hari setelah mereka tidur siang. Saya biasanya mengumpulkan botol-botol air mineral bekas dan di cat menjadi beberapa warna berbeda, untuk dijadikan bahan mainan. Lalu botol tersebut saya susun menjadi dua lapis, setiap lapisnya saya susun sampai lima botol. Permainan ini sama seperti permainan bowling.

Bedanya, disini kita bisa mengajarkan anak tentang perhitungan dasar dan pengenalan warna dengan menghitung berapa botol yang jatuh, dan berapa yang tersisa, sambil menyebutkan warnanya. Walaupun hal tersebut tidak termasuk pada permainan tradisional, tapi cara mereka membangun komunikasi secara nyata masih merupakan cara yang tradisional. Terkadang mereka saya ajak untuk bermain congklak yang menyebabkan si anak harus mengatur strategi bila ingin memenangkan pertandingan. Ini juga berdampak pada kedekatan emosi sang anak kepada kita.

Mengajarkan anak cara membaca penunjuk waktu
Mengaktifkan Daya Imajinasi Anak dengan Melukis Wajah

Ikram yang menerima tantangan Saya untuk memindahkan Air dari wadah yang satu ke wadah yang lain dengan syarat airnya tidak boleh tumpah

Setiap anak berbeda, dan perlakuan berbeda juga saya terapkan pada ponakan saya yang masih berumur tiga tahun, walaupun dia jarang bermain ke rumah, tetapi ketika dia berkunjung, saya selalu langsung mengajaknya bermain diluar rumah. Menjauhkannya dari jangkauan gadget.

“Anty.. dek abib mau nonton, mintak hape anty”

“Ngapain maen hape, anty bosan.. kita main di luar aja yok.. kita manjat-manjat pohon mangga aja. Nanti anty kawani. Tapi kalau gak ada orang yang liat, dek mbeb jangan manjat-manjat ya, nanti kalau jatuh gak ada yang bantuin”

Kita sering memulai perdebadatan di awal, walaupun ujung-ujungnya akan ada yang harus mengalah, entah itu dia ataupun saya. Kalaupun saya yang harus mengalah dan merelakan gadget saya digunakan olehnya, saya selalu memberikan batas waktu dan itu tidak lebih dari satu jam. Serta saya pun tetap mengawasinya ketika dia menonton sebuah acara, dan saya sering mengajaknya diskusi tentang acara yang ditontonnya. Jadi walaupun dia terjebak oleh gadget, komunikasi secara nyata masih tetap terjaga dengan cara berdiskusi.

Dek Mbeb (panggilan kesayangan) yang akhirnya nyaman bermain di pasir sebelum saya “lemparkan” ke laut, karena dia takut dengan ombak, namun karena sudah merasa nyaman, akhirnya dia juga ikutan mandi di laut

Kalau pun akhirnya nanti ponakan saya yang mengalah, saya juga sudah menyiapkan beberapa permainan sederhana untuknya. Saya menyediakan beberapa kaleng cat yang saya susun secara rapi, lalu saya berikan tantangan untuk meletakkan beberapa daun yang warnanya berbeda pada setiap kaleng cat tersebut dengan warna hijau, coklat, dan kuning. Syaratnya adalah daun yang diambil merupakan daun yang jatuh ke tanah. Setelah semua terkumpul kami mulai menghitung jumlahnya.

Setelah permainan kita selesaikan, saya juga mengajaknya untuk meletakkan kembali mainan tersebut pada tempatnya, dengan alasan bila nanti dia kemari lagi, akan mudah mencari mainan tersebut, dan saya juga menekankan padanya, bahwa mainan tersebut adalah milik kami, dan kami wajib menjaga mainan tersebut agar tidak hilang. Dengan cara itu, secara tidak langsung kita sudah mengajarkan anak tentang cara bertanggungjawab dan disiplin dengan cara yang disukai olehnya. Dan halaman pun jadi lebih bersih dari daun yang berserakan tadi.

Padahal cara yang dilakukan adalah sebuah cara yang sederhana, tapi saya yakin hal tersebut akan berdampak pada perkembangan emosi dan kematangan sikap anak tersebut ke depannya. Daripada harus melarang ini itu pada anak, lebih baik mengajaknya berdiskusi dan membuat kesepakatan bersama dengannya. Hal ini juga secara tak langsung mengajarkan anak bagaimana melakukan negosiasi dengan cara yang positif.

Salam,

@fararizky

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *