tentang rasa

Ketika Arogansi Menguasai Diri

Photo by Adrien Ledoux on Unsplash

“Hey gadisku, tahan emosimu!”

Terdengar bisikian Hati yang mengisi ruang pikiran sang gadis, lalu otak kanannya merespon, Pikiran yang sebelumnya hanya terdiam mulai gelisah. Mood sang Gadis mendadak berubah, amarah mengelilingi tubuhnya. Suhu tubuh yang tadi normal berubah menjadi panas. Seperti terbakar, hingga mata dan wajahnya memerah.

“Biarkan dia meluapkan emosinya!” Kemudian Pikiran angkat bicara.

Sudah tak terhitung berapa lama sang Gadis luput dari komunikasi yang biasa dilakukan bersama Hati dan Pikiran yang dipercayakan menjadi penengah atas segala keputusan. Komunikasi yang selalu dilakukan ketika tengah malam tiba, kini bisa dibilang mulai terlupakan. Hal tersebut berimbas pada jiwa yang kehilangan arah.

“Mana rasa kasihmu terhadap yang lain? Biasanya kau ahli dalam hal itu! Bahkan kau selalu mampu memunculkan kebaikan yang tersembunyi dalam dirimu! Ini bukan kamu yang sesungguhnya, gadis ku,” Hati mulai tersulut emosi, kegeraman muncul ketika sang Gadis tak sedikitpun memiliki keinginan meredam amarahnya.

“Sudahlah, Hati. Biarkan saja dia. Kau jangan terlalu berlebihan menanggapi hal ini. Memangnya kenapa kalau dia meluapkan emosinya, kau pun tak akan rugi!” lagi-lagi Pikiran selalu menjadi penyulut api bila dihadapkan oleh situasi seperti ini.

Hati pun tak bisa membendung lagi emosinya “Ini semua ulah mu, Pikiran! Hidupnya tak akan pernah berubah kalau seperti ini terus! Dia tak akan pernah bisa belajar dari kesalahan masa lalunya.”

“Kalian kenapa bertengkar?? Kan yang punya masalah saya” sang Gadis yang tadinya diam mulai menyuarakan gundahnya, seperti biasa.. masih dengan nada cuek yang dimiliki.

“Kau itu bagian dari kami, bodoooohhhh” Pikiran menjadi geram, “kami ini ya dirimu! Lantas kau masih bertanya kenapa kami bertengkar?”

Pikiran tak menyangka gadis yang dibela daritadi malah terkesan tak perduli pada usahanya. Sementara Hati yang sempat tersulut emosi oleh frekuensi negatif yang terlalu kuat ditularkan sang Gadis, hanya bisa senyum-senyum sendiri. Dia paham betul sifat Gadisnya yang terkadang menyempatkan diri menampilkan keisengan diantara amarah yang sedang berlangsung.

“Saya tak akan meredam ego terhadap arogansi seseorang! Saya tak akan pernah mentolerir ketidaktegasan yang dimiliki oleh orang tersebut!” ucap sang Gadis kembali dipenuhi emosi. “Ngakunya saja profesional, tapi sekedar menjadi si pengambil keputusan saja tidak mampu! Apalagi untuk menghargai orang lain” umpat sang Gadis dengan tatapan yang terlampau sinis.

“Lalu apa bedanya kau dengan orang itu?” tanya pikiran yang berbalik membela hati, mungkin pikiran kecewa karena tak ada yang membelanya. Bahkan tidak oleh Gadisnya yang selama ini selalu dia jadikan boneka.

Akhir-akhir ini memang Pikiran sudah mulai kalah pamor dari Hati, karena Gadis mereka mulai mencoba adil sehingga tidak ada yang mampu mengontrol hidup sang Gadis seperti yang selama ini dilakukan oleh Pikiran. Saat ini kontrol penuh telah diambil alih oleh sang Gadis sendiri.

“Sebenarnya siapa sih yang kamu bela, Pikiran? Kau ini plin plan!

“Hey gadisku, aku ini bagian dari dirimu, ya aku mencerminkan sosokmu! Artinya aku plin plan karena mu, kau yang memberikan peluang kepadaku agar bersikap plin plan!”

“Berisiiiik…!” Bentak sang Gadis yang terlalu diredam agar tak meledak.

“Kenapa? Aku menyinggung egomu?” Kata Pikiran yang sudah menyatu dengan Hati.

Sang gadis terdiam, dipandanginya lekat-lekat wajah di depan cermin tersebut dengan mata memerah, tak ada air mata yang menetes, hanya amarah yang semakin menjadi. Sang gadis paham bahwa menaklukkan emosi bukanlah perkara mudah. Butuh sebuah ketenangan saat itu.

Sayang… ketenangan yang dibutuhkan tak kunjung datang, hanya percikan-percikan api amarah yang lambat laun mulai membiru.

“Ini tak boleh dibiarkan” ucap Hati yang dari tadi mencoba untuk melerai perdebatan antara Gadis dengan pikirannya. “Hentikan berpikir! Atur nafasmu! Kalau tidak, pikiran yang kau miliki akan berubah menjadi iblis yang akan merusakmu. Kau mau terus-terusan seperti itu? Lalu kapan kau akan menjadi dewasa?!?

Pertanyaan terakhir dari Hati menyentak sang Gadis. Seketika mata yang masih memerah dan panas, perlahan redup. Tarikan napas panjangnya menyisakan setumpuk embun yang membekas pada cermin di dinding kamar. Cukup lama dia terdiam, sepasang mata menatap lekat pantulannya sendiri pada cermin tersebut.

“Saya butuh ruang sendiri, sejenak” ungkap sang Gadis

“Gunakan ruang  kesendirian itu semampumu, sebanyak waktu yang kau punya. Tapi jangan pernah tersesat lagi,” ucap hati dengan nada menenangkan.

Photo by Rosie Fraser on Unsplash

Hati memang mampu memenangkan pertarungan ego, bahkan dia pun mampu mengendalikan pikiran yang selama ini selalu dapat menyulut amarah sang Gadis.

Sementara gadis mereka, dia akan memanfaatkan kesendirian agar egonya tak tersakiti lagi.

Photo by Matt Kochar on Unsplash

 

Salam,

@fararizky

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *